Kamis, 22 September 2011

si bolang takut pulang

SI BOLANG TAKUT PULANG

Hapeku berbunyi lagi, bergetar-getar dulu, baru bersuara.aku Cuma melirik sekilas untuk melihat siapa yang menelfonku sepagi ini, mengganggu acara tidur seusai subuhku saja.

Tapi melihat nama yang tertera dilayar, sepertinya aku tidak boleh mengabaikan si penelpon pagi ini.

Aku angkat telfonnya.

“Assalammuaikum…..”sapaku malas-malas dengan suara bangun tidurku, yang kuharap tidak terlalu seksi terdengar.

“Malandau sampai jam segini…..”gerutu si penelfon, “wa alaikum salam” barulah dia menjawab salamku kemudian.

“Elok….liburankah?” tanyanya.

Maksudnya liburan ditempatku mengajar. jelas bukan liburan tempatku kuliah, karena aku sedang menyelesaikan tugas akhir, liburan semester tak ada maknanya lagi…karena sepanjang semester ini aku sudah libur karena mata kuliahku hanya tersisa 2, itupun karena aku harus mengulang mengingat dosen-dosen itu dengan pelitnya memberiku nilai D dan E di mata kuliah mereka.

“Iya Yah” dengan berat kubenarkan pertanyanya si penelpon, yang adalah Ayahku, teroris abad ini….ya…bagiku dia adalah teroris yang menerorku untuk selalu pulang selama beberapa bulan terakhir ini.

“Pulang am….”katanya.

“masih ada pekerjaan Yah” jawabku.

“Skripsimu kah?...bagaimana skripsimu?” tanyanya.

Oh..mamamia…ini adalah pertanyaan yang lebih menakutkan dari pada terror….”iya Yah, aku masih kejar-kejar dosen untuk acc proposal…”

“oh astaga….ikam bahkan belum seminar proposal?.....”

Ya…..ternyata mengejar dosen tidak semudah mengejar mas-mas tukang bakso yang lewat didepan kos, sementara teman-temanku satu persatu sudah mulai skripsi, ada yang seminar skripsi dan bahkan sudah ada yg masuk list wisuda Juli ini, aku masih terkatung-katung di langkah pertama….mengejar dosen untuk acc proposal.

Perihal skripsi ini pula yang membuatku tidak punya muka untuk pulang kampong dan menghadap ayah tercinta.

Padahal betapa rindunya aku pada Lamandau…ehm..bagi yang belum tahu Lamandau, Lamandau adalah kota kecil di daerah Kalimantan Tengah, berjarak hampir sehari perjalanan darat dari ibu kota Kalteng PalangkaRaya. Bisa juga dijangkau dengan speed, kalau air sedang tidak surut. Please check wikimapia.

Betapa rindunya aku pada sungainya, sungai Lamandau, sungainya berwarna coklat membawa lumpur,di tepiannya kadang berwarna hitam membawa unsure organic dari daun-daun yang membusuk dari hutan. Sedikit beriak karena tidak terlampau dalam di beberapa tempat, pada musim-musim tertentu airnya hanya sepinggang orang dewasa.

Sungai Lamandau tercintaku, tempat aku menghabiskan masa kecil dan remajaku yang gilang gemilang.

Masa kecil di mana aku biasa terjun bebas dengan riang di airnya yang coklat, terjun setengah telanjang dengan bebas….ha ha ha …tolong jangan bayangkan aku telanjang seperti itu, anak perempuan memakai baju dalamnya, saat beranjak remaja dan dewasa para gadis dan ibu-ibu memakai kain sedada saat turun ke sungai.

Masa kecil saat aku dan teman-teman memancing ikan, mengangkat buluh maupun menangguk ikan saat sungai sedang surut di musim kemarau.

Masa kecil dimana aku melihat ayah menyeret seekor ikan belida BESARRRR, sebesar seekor rusa. Saat ini ikan belida sudah sangat langka, untuk mendapat ikan belida seukuran lengan orang dewasa adalah sangat beruntung.

Aku khawatir bila anak-anakku tidak bisa lagi menikmati ikan belida…dan bahkan cucuku hanya melihatnya dalam gambar. Mengingat besarnya perusakan hutan dan pembukaan hutan untuk perkebunan sawit yang sangat besar ini, merusak segala keragaman hayati di seluruh Kalimantan.

Bahkan burung gerejapun tidak lagi bertengger di depan rumahku setahun lalu saat aku pulang, dan semakin aku jarang menjumpai kunang-kunang yang terbang riang dimalam hari.

Salah seorang temanku yang cantik sering kali bilang bahwa tidak akan lama lagi Kalimantan akan menjadi gurun seperti halnya Nigeria di Afrika. Aku belum pernah meninggalkan pulau ini kecuali ke Bali saat karyawisata. Jadi aku belum dapat membandingkan apapun diluar pulau ini.

Namun Bunda Prabu, demikian aku menyebut temanku yang cantik itu…mengatakan: berbeda dengan pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang memiliki gunung berapi, di mana letusan gunung tersebut menyediakan banyak unsure hara yang tak ada habisnya bagi tanah sehingga tanah akan selalu subur setelah dieksploitasi. Kalimantan tidak punya letusan gunung, bila hutan dibabat habis, maka habislah cadangan makanan dan air didalam tanahnya (yang adalah tanah gambut).

Pembabatan hutan dilanjutkan oleh penanaman tanaman sejenis semisal sawit, yang monoculture sangat mengeksploitasi tanah dan menghabiskan unsure-unsur hara dalam tanah dengan sangat cepat.

“Mungkin ketika cicit kita bercucu” kata Bunda Prabu,” yang tersisa dari Kalimantan ini hanya pasir” (tanah dikalimantan bukan tanah merah seperti di Jawa, tapi pasir putih seperti di Kuta), dan saat ini sudah dimulai.

Dan kenapa aku jadi ikut-ikutan Bunda Prabu, mengkhawatirkan bahwa cucu dari cicitku akan kekeringan dan kelaparan seperti anak-anak gurun pasir di Nigeria?.

Bukankah aku seharusnya mengkhawatirkan skripsi…dan mengkhawatirkan aku kan diomelin Bunda Prabu karena aku telat lagi masuk kerja….oh lala…jam 6.15….!

Hup!, aku meloncat turun dari kassurku yang tidak bersprei dan menyambar handuk. dengan putus menyadari bahwa aku harus ngantri di kamar mandi…dan mengutuki bahwa aku sebenarnya sudah bangun dari tadi, bisa mandi dari tadi, tapi aku lebih senang melamun di kasur daripada bangun dan mandi.

Seperti biasa, Bunda Prabu menyambutku dengan senyum cerahnya yang manis, semanis bingka yang kumakan pagi ini sebelum sarapan. Ya…meskipun suka ngomel-ngomel Bunda Prabu memang memiliki kepribadian menarik, yang membuat orang senantiasa mau dekat…dan bersedia menebalkan telinga untuk diomelin.

“Melandau lagikah??? Sepanjang bulan ini absensimu merah semua…” gerutunya sambil tersenyum. Aneh, kenapa kalo yang ngomel Bunda Prabu jadi terlihat seksi, sementara kalo yang menegurku kepala sekolah jadi terlihat seperti disaster ?.

Aku nyengir… memasang wajah melas sekaligus manja. “Iya am….gimana dong bu…”sahutku berusaha bermanis-manis.

Bunda Prabu menaikan hidungnya ke atas, gaya mencibirnya yang khas. “ya…kesalahanmu ini bisa bu Elok tebus, kalo bu elok mengajakku pulang ke Lamandau..ya ya ya..ajak aku pulang ya??” seketika gaya judesnya berganti dengan gaya merajuk.

Bunda Prabu, memang backpacker sejati, meskipun terlihat imut di usia yang ke 31 tahun, dia adalah orang yang doyan merambah ke tempat-tempat yang tidak ada dalam peta wisata Indonesia.

“Elok tidak pulang bu….” Sahutku.

“HaiyaH!” dia melemparkan tangannya ke atas dengan sebal. “kapan lagi memangnya kita ada kesempatan?. Semester depan Bu elok sudah mundur dari sini, semester depannya lagi aku pulang ke Jawa saat liburan, dan semester depan-depannya lagi suamiku mungkin sudah dipindah lagi entah ke mana…hiks…jangan-jangan aku tidak akan menginjak tanah lamandau…”

Aku tidak memahami kesedihannya dan kemarahannya karena tidak bisa main ke Lamandau, karena toh, aku pasti pulang. Ini hanya menunda pulang.

Aku toh akan pulang begitu ada kejelasan soal skripsiku.

Untuk bertemu Ayah, Ibu, Kebun karetku dan sungai Lamandau-ku. Untuk mencebur dengan riang di sana meskipun diikuti puluhan pasang mata karena aku mencebur lengkap dengan kerudung yang panjang.

Untuk melihat senyum ayahku dan omelan Ibuku, yang lebih jago ngomel daripada Bunda Prabu….but anyhow…aku toh sayang dengan orang-orang yang ngomelin aku.

Aku menatap mata Bunda Prabu, dengan sedikit penyesalan.

“Maaf bu…” kataku pelan. “Tapi aku takut pulang….”

****End On This-25/8/2011. Tks to Ita.*****

Ket:

Malandau/melandau : kesiangan

…am : serupa dengan:…..dong. (akhiran dalam bahasa Mendawai-suku dayak di

Lamandau)

Bingka : makanan sejenis serabi, manis dan dibakar di oven atau tungku, khas

daerah Banjarmasin

ikam: kamu

buluh : perangkap ikan = lukah.

Menangguk : mengambil ikan dg keranjang saat air surut.

\

Tidak ada komentar:

Posting Komentar